Berita Puskesmas Tolak Pasien Ini Penjelasan Kadiskes Tubaba

DAERAH TULANG BAWANG BARAT

Tampabatas.com (SMSI-lpg),
Tulangbawang Barat (Tubaba)– Beredarnya pemberitaan melalui media online terkait adanya “Seorang wanita meninggal dunia diduga akibat penolakan Puskesmas, Kepala Dinas Kesehatan Tulangbawang Barat Majril, memberikan penjelasan dan klarifikasi.

Majril meminta Kepala UPTD Poned Kibang Budi Jaya untuk hadir ke Dinas Kesehatan di Komplek Perkantoran Bupati Tiyuh Panaragan, untuk dimintai keterangan terkait pemberitaan media tersebut.

Dalam keterangannya Kepala Puskesmas telah melakukan penelusuran di Puskesmas, dari saat pasien datang sampai pulang kembali ke rumah kediamannya, maupun medical record (catatan rekam medis) di Puskesmas, dan dari keterangan Tim medis dan Paramedis yang bertugas jaga saat itu di Puskesmas.

Kepala Puskesmas Kibang Budi Jaya menyampaikan bahwa, pada hari Sabtu, Tanggal 07 Mei 2022 pukul 18.45 WIB. Salah seorang keluarga pasien (Tn. A) datang ke UGD Puskesmas meminta untuk merawat pasien dengan tetap tidak membawa pasien ke puskesmas dan mengatakan bahwa pasien sebelum berobat ke dr. Nilawaty, pasien diajak berobat ke Bidan Wayan di desa Kahuripan Kabupaten Tulang Bawang.

Petugas Puskesmas menjelaskan situasi ruangan pada saat itu kepada Tn. A sambil membawa yang bersangkutan keliling ke ruang-ruang rawat inap puskesmas yang sudah terisi pasien dengan rincian, pasien laki-laki, Tn. M /71 tahun di ruang sakura dengan diagnose dokter Dyspepsia intake oral sulit + ISK curiga penyumbatan batu kemih + Asma Bronchiale dengan kateter terpasang.

Pasien perempuan, Ny. SH/ 45 tahun dengan diagnosa Hypertensi Emergensi dengan kecurigaan Gagal ginjal stadium I/II di ruang anggrek.

Pasien perempuan, Ny. Y/ 63 tahun dengan diagnose dari dokter PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Menahun) dengan kecurigaan TBC paru aktif di ruang mawar.

Petugas menanyakan kepada TN. A apakah bersedia rawat gabung dengan pasien di ruang anggrek (ny. SH) dengan kondisi ramai menjenguk keluarga dari Ny. SH atau langsung dibawa/ dirujuk ke Rumah Sakit. Setelah berkeliling, Tn. A menunggu pasien di kursi tunggu UGD tanpa memberikan keputusan apakah bersedia dirawat gabung atau dibawa ke RS.

Saat bersamaan pasien (Ny. K) diantar dengan motor oleh adik Tn. A yakni Tn. R. Pasien masuk ke UGD bersama seorang menantu pasien dan seorang ibu yang menggunakan hijab berwarna krem kecoklatan. Pasien diperiksa oleh petugas jaga yakni Ketut Wihatyani, Amd. Keb dan Akhmad Fatoni, Amd.Kep, sewaktu pemeriksaan, suami pasien berteriak-teriak dengan nada tinggi di luar UGD. Petugas (Ketut Wihatyani, Amd.Keb) tetap melakukan pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut .

Keadaan umum, Baik-Sedang (petugas menawarkan untuk pakai kursi roda), tetapi keluarga mengatakan tidak perlu karena pasien bisa jalan sendiri di gandeng keluarga .

Kesadaran: Sadar/Compos mentis Kondisi : datang ke ruang UGD Puskesmas didampingi menantu dan ibu yang berhijab krem kecoklatan.

Tanda-tanda vital : Tekanan Darah 100/78 mmHg; Suhu 36.5°C; Nadi 72x/menit; RR 24x/menit, SpO2 98%; Gula darah sewaktu 420 mg/dl; Kepala : dalam batas normal; Leher :dalam batas normal; Dada: dalam batas normal; Perut: dalam batas normal; Anggota gerak: Deformitas/kecacatan lengan kanan bekas patah tulang lama Durasi kunjungan : kurang lebih 10 menit 21 detik.

Sementara Akhmad Fatoni, Amd.Kep menelpon dokter jaga pada saat itu yakni, dr. Nilawaty untuk melakukan konsul penatalaksanaan pasien tersebut sambil berkata kepada rekan kerjanya untuk menyiapkan infus. Sementara disiapkan, ibu yang menggunakan hijab berwarna krem kecoklatan mengajak pasien untuk pulang saja, sementara itu suami pasien tetap berteriak-teriak di luar UGD dan pasien sempat mengeluarkan kata-kata sebagai berikut (didengar oleh petugas puskesmas) “ Diam dulu, pening kepala saya” dan petugas masih melakukan pendekatan dengan mengatakan “ ibu duduk dulu” dan pasien tetap dibawa pulang ke rumah. Dan dr. Nilawaty sudah bersiap untuk ke Puskesmas, tapi dikabarkan bahwa pasien dibawa pulang. Untuk selanjutnya petugas yang berjaga tidak dapat berbuat apa-apa.

Dengan penjelasan atau klarifikasi ini, Kadiskes berharap semua menjadi jelas terkait kronologi dan kejadian yang sebenarnya, sembari tetap menyampaikan permohonan maaf dan turut berduka cita kepada keluarga. “Kami sampaikan ucapan turut berduka cita atas wafatnya ibu K, semoga beliau husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan tabah menerima ini sebagai takdir dari Alloh SWT.

“Dan jika kami belum mampu memberikan pelayanan yang terbaik dan memuaskan bagi keluarga dan seluruh masyarakat di Tubaba, kami sampaikan permohonan maaf, dan kedepan hal ini menjadi catatan untuk perbaikan, yang akan terus kami lakukan”, ungkap Kadiskes mengakhiri penjelasannya.(*)

 

SHER tampabatas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *