Home / ADVERTORIAL / PRINSIP NENEMO DIGAUNGKAN BUPATI UMAR AHMAD MAMPU RUBAH  WARGA TUBABA

PRINSIP NENEMO DIGAUNGKAN BUPATI UMAR AHMAD MAMPU RUBAH  WARGA TUBABA

Foto : Bupati Tulangbawang Barat, Hi.Umar Ahmad, SP.

Tampabatas.com(SMSI-lpg),
Tulangbawang Barat (Tubaba).-
Prinsip hidup NENEMO (Nemen, Nedes, Nerimo) merupakan prinsip yang digaungkan Bupati Kabupaten Tulangbawang Barat Umar Ahmad sebagai prinsip cara hidup masyarakat Tulangbawang Barat menuju Tubaba sebagai masa depan.

Dengan berpegang teguh pada prinsip itu warga Kabupaten Tulangbawang Barat yang bernama Suprihatin (48 tahun), wanita yang tinggal di Tiyuh Indraloka Jaya, Kecamatan Way Kenanga, dengan kegigihannya mencoba mengubah takdir, menghadirkan harapan dan mentari yang cerah bagi putra-putrinya. Bersama Suparmo (57 tahun) sang suami, dia menanamkan pemahaman kepada 6 anaknya tentang pentingnya pendidikan. Kini, seluruh putra-putrinya itu mengenyam pendidikan tinggi, sebagian telah menjadi sarjana, padahal orang tua mereka hanyalah lulusan Sekolah Dasar yang hingga saat ini menjalani hidup dengan serba pas-pasan.

Suprihatin berjuang demi kemajuan anak-anaknya. Dia bersama suaminya bekerja keras (nemen), ulet (nedes), dan senantiasa berbesar hati atas keadaan yang harus dihadapinya (nerimo).

Suprihatin adalah ibu rumah tangga biasa yang sesekali berupaya menambah penghasilan dengan mencari jamur di perkebunan sawit untuk dijual. Suaminya pun bukan sosok yang berpenghasilan tinggi, yaitu menjadi tukang bangunan, dan nyambi menjadi blantik (pedagang) kambing.

Suprihatin bersama keluarganya hidup dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, sebagian berdinding bata merah dan sebagiannya lagi berupa papan serta anyaman bambu. Namun, di rumah sederhana itulah Suprihatin mendidik dan menanamkan kharakter bagi anak-anaknya. Dia mengasuh 6 buah hatinya dengan penuh kasih sayang. Dia juga memberi contoh tentang kesederhanaan. Dan yang paling membekas adalah bagaimana dia memotivasi anak-anaknya agar tetap melanjutkan sekolah kendati orang tuanya harus banting tulang mencari nafkah.

Foto: Ibu Suprihatin di rumahnya.

Sejak kecil Ibu Suprihatin akrab dengan kegetiran hidup. Ibu rumah tangga kelahiran 21 Maret 1972 ini sejak berumur 5 tahun tidak lagi merasakan kasih sayang dan didikan seorang ayah dikarenakan ayahnya telah meninggal dunia, dewasa dengan kasih sayang dan didikan ibu serta kakak laki-laki yang sudah seperti ayah baginya. Karena keterbatasan ekonomi yang dimiliki ibunya, dia hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai tingkat Sekolah Dasar (SD) saja. Kemudian pada umur 19 tahun beliau menikah dengan seorang laki-laki yang bernama Suparmo, dari sinilah kehidupannya mulai dicurahkan untuk keluarganya.

Kini beliau berhasil mengantarkan ke-6 anaknya menempuh pendidikan hingga meraih gelar sarjana. Anak pertama yang sempat putus sekolah hingga tingkat SMP dikarenakan masalah ekonomi yang sedang sulit pada saat itu, dengan penuh dukungan, nasihat, dan didikan Ibu akhirnya mampu kembali melanjutkan pendidikan hingga akhirnya memperoleh Sarjana Pendidikan. Belajar dari pengalaman anak pertama yang sempat putus sekolah, Ibu Suprihatin bertekad untuh tidak lagi terjadi hal yang seperti ini. Dengan penuh kesabaran dan pengorbanan dia terus memberikan dukungan kepada anak-anaknya dalam menjalani pendidikannya.

Hingga akhirnya saat ini beliau sudah berhasil mengantarkan ke-4 anaknya sampai memperoleh gelar sarjana, sedangkan dua anaknya yang paling kecil saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan sedang menjalani proses kuliah kerja nyata (KKN).

Anak pertamanya bernama Sugiarto telah lulus menjadi Sarjana Pendidikan (PGSD). Anak keduanya  bernama Susi Susanti merupakan Sarjana Pendidikan (jurusan Pendidikan Sejarah). Anak ketiganya bernama Sundari merupakan Sarjana Pendidikan (jurusan Pendidikan Fisika). Anak keempatnya bernama Waluyo merupakan Sarjana Teknik Perkapalan. Anak kelimanya bernama Iskandar  sedang menempuh pendidikan S1 Teknik Fisika. Dan anak terakhirnya bernama Mei Suryani sedang menempuh pendidikan S1 MIPA Fisika.

Untuk mengantarkan anak-anaknya meraih pendidikan yang layak bukanlah perkara yang mudah bagi ibu Suprihatin. Dibutuhkan perjuangan dan kesabaran dalam mendidik seorang anak agar memiliki karakter dan atittude yang baik. Ketika anak-anaknya masih kecil dan di usia pendidikan dasar (SD), beliau sendiri yang mengajari anaknya untuk belajar membaca dan berhitung. Hanya sebatas pendidikan dasar yang mampu diajarkan kepada anaknya dikarenakan pendidikan beliau juga hanya sampai SD, namun saat anak-anaknya sampai di jenjang sekolah menengah beliau tetap memberi dukungan dan nasihat kepada anak-anaknya.

Foto: Ibu Suprihatin (paling kanan) bersama Ibu Kornelia Umar Ketua TP-PKK Tubaba (tengah).

Nasihat yang paling sering disampaikan kepada anaknya adalah: “Salah satu cara untuk memperbaiki hidup adalah melalui pendidikan, jadi jangan menyerah dengan keadaan untuk terus memperbaiki diri. Jangan sampai menjadi seperti bapak ibumu.”

Suprihatin benar-benar lebih banyak mendedikasikan hidupnya untuk keluarga, hingga hanya sedikit waktu yang dicurahkan untuk mengikuti kegiatan sosial dengan ibu-ibu yang lain. Kegiatan luar rumah yang acap kali diikuti adalah pengajian.

Beliau lebih sibuk dan menghabiskan waktu untuk mengurus keluarganya, mulai dari menyiapkan makan, membereskan rumah, mencuci pakaian, hingga mengajari ke-6 anaknya. Dari kegiatannya yang lebih banyak di dalam rumah inilah justru membuat dirinya punya banyak kesempatan menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak.

Beliau juga selalu memberi contoh untuk anak-anaknya sehingga di mata anak-anaknya beliau adalah seorang ibu yang sempurna, wanita terkuat, wanita tersabar, dan wanita yang kasih sayangnya tidak pernah menghilang. Apa pun keadaannya, beliau tetap menjadi yang terhebat untuk anak-anaknya.

Kini saat dirinya berhasil mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan yang tinggi, beberapa tetangganya sering kali datang ke rumahnya untuk berkonsultasi menanyakan bagaimana cara menyekolahkan anak padahal keadaaan ekonmi keluarga sangat minim.

Menurutnya, keenam anaknya memiliki kemauan yang kuat untuk belajar. Mereka selalu mendapat ranking di kelas. Kepada anak-anaknya, Suprihatin kerap berpesan: “Kalau mau sekolah yang penting tenanan (serius), saya dukung, tapi jangan nakal, jangan neko-neko.”

Yang juga patut disyukuri adalah bahwa anak-anaknya memiliki kepribadian yang baik. Mereka tidak malu sekolah atau kuliah walaupun berasal dari keluarga sederhana. Sembari kuliah, anaknya pun ada yang menyempatkan waktu berjualan sayur matang yang dimasaknya sendiri, dijajakan kepada rekan-rekan sesama mahasiswa yang kost.

Foto :Suprihatin (tengah) foto bersama Camat Waykenannga Iskandar, SE.,MM usai menerima penghargaan sebagai Wanita Inspirasi dari TP-PKK Tubaba.

Pengalaman hidup yang dialami oleh Ibu Suprihatin telah membuat banyak warga lain di sekitar Kecamatan Way Kenanga ingin mencontoh. Tidak sedikit yang mendatangi kediamannya untuk menanyakan cara-cara  mendidik anak serta menyekolahkan di tengah keterbatasan ekonomi.

Sosok Ibu Suprihatin dapat dijadkan contoh bagi keluarga-keluarga lainnya. Banyak kesaksian dan apresiasi dari warga atas keberhasilan Ibu Suprihatin dalam mendidik dan menyekolahkan anak.

Ibu Endang Sri Budiarti, warga Tiyuh Indraloka I, Kecamatan Way Kenanga, mengatakan bahwa dirinya terinspirasi atas tekad kuat yang dimiliki Ibu Suprihatin dalam menyekolahkan anak-anaknya.

Ibu Sumartini, warga Tiyuh Agung Jaya, Kecamatan Way Kenanga, mengagumi Ibu Suprihatin karena kegigihannya dalam mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi.

Ibu Sri Handayani, warga Tiyuh Mercu Buana, Kecamatan Way Kenanga, terinspirasi atas kemampuan Ibu Suprihatin dalam mendidik anak-anaknya menjadi pintar dan cerdas, sekaligus membekali anak-anaknya dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan harta.

Ibu Siti Markamah, warga Tiyuh Indraloka Jaya, Kecamatan Way Kenanga, menilai Ibu Suprihatin sebagai sosok yang tangguh, mampu mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang.

Dalam Rangka memeriahkan hari Kartini tahun 2021, TP-PKK Kabupaten Tulangbawang Barat menggelar pemilihan wanita inspirasi dan dimenangkan Suprihatin kelahiran , Banyuwangi, 21 Maret 1972 , yang sekarang maenjadi warga tetap Tiyuh Indraloka Jaya RT 18 / RW 005 Kecamatan Way Kenanga. (ADV/KMF).

SHER tampabatas
Baca Juga Artikel di LV

About admin

Check Also

Bupati Umar Ahmad Lakukan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Jami’ Di Panaragan

  Foto : Bupati Umar Ahmad letakkan batu pertama pembangunan masjid Jami’ Tampabatas.com(SMSI-lpg), Tulangbawang Barat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *