Home / BERITA BARU / CINTA BAGAI AIR DALAM BEJANA

CINTA BAGAI AIR DALAM BEJANA

Tampabatas.com(SMSI),
Tulangbawang Barat (Tubaba).-
Cinta tak mengenal kasta, kalimat itu acapkali didengar sebagai kiasan dari rasa kasih sayang yang tertanam pada umat manusia, yang pada dasarnya suatu hal yang akan tumbuh secara relatif antar lawan jenis.

Dikala Rasa Cinta tumbuh pada diri manusia, yang ada hanya suatu kesamaan dalam tujuan tiada lagi ada tinggi dan rendah, yang ada hanya suatu rasa kesamaan dalam hidup, walau seakan dibatasi oleh status soial. Ini juga dapat diumpamakan air dalam bejana berhubungan yang akan selalu sama tinggi permukaannya walau tak sama bentuk karena terpisahkan oleh penyekat bejana.

Terlahir miskin tidak menjadi harapan semua orang di dunia ini dan juga bukan merupakan pilihan dalam hidup, keberadaan dan kemampuan finansial, status sosial, harta dan kekayaan terkadang menjadi tolok ukur orang tua dalam melihat calon pasangan hidup untuk anak-anaknya. Wajar karena tidak akan pernah ada orang tua yang rela melihat anaknya susah dan menderita dalam mengarungi bahtera hidup berumah tangga kelak.

Beberapa kalimat itu mungkin sangat identik dengan kenyataan adanya sepasang kekasih ini, yang saling mencintai telah memutuskan untuk hidup bersama setelah berpacaran dalam kurun waktu yang cukup lama hingga bertahun lamanya.
Sepasang kekasih itu yang tak lain adalah Alin Aulia warga Kelurahan Dayamurni Tumijajar dan Agus Ardiansyah warga RK.07 RW.08 Brebes Tiyuh kantong Panargan, Kecamatan Tulangbawang Tengah (TBT), Kabupaten Tulangbawang Barat sepakat untuk berumahtangga dengan menempuh jalan kawin lari (Sebambangan) yang sah berdasarkan adat istiadat Lampung Pepadun Tubaba.

“Mungkin karena saya orang miskin, maka calon mertua saya menolak saya, sebenarnya saya sejak awal saya sudah mengatakan dengan calon istri saya Alin bahwa saya akan berusaha dulu baru saya akan melamarnya, tapi Alin ngajak saya larian karena menurutnya orang tuanya pasti tidak setuju, karena latar belakang saya dari keluarga yang tidak mampu,” ujar Agus Ardiansyah, yang merupakan anak tertua dari empat bersaudara.

Agus juga pernah tercatat sebagai mahasiswa semester delapan (8) Strata satu (S1) Fakultas MIPA Universitas Lampung (Unila).

Dengan linang airmata Agus Ardiansyah bercerita, sepeninggal almarhum Ayahnya Kadarsyah warga Tiyuh Karta Tulangbawang Udik (TBU) beberapa tahun yang lalu, dirinya terpaksa harus berhenti kuliah karena tidak ada biaya.

“Setelah itu saya bekerja untuk membantu Ibu dan dua orang adik saya yang masih duduk dibangku SMA dan SMP dikala itu,”ungkapnya.

Lanjutnya, Dari hasil bekerja dengan salah satu perusahaan swasta, dia membangun rumah sederhana berdinding papan dipinggir kebun karet Dusun Brebes Tiyuh Panaragan, yang saat ini dihuni oleh Ibu dua adiknya.

Berselang waktu Agus Ardiansyah bersama sang adik yang baru lulus SMA pergi merantau mengadu peruntungan ke Jakarta untuk membuka usaha jasa service dan pemasangan Air Conditioner (AC), dari usaha itulah Agus Ardiansyah dapat berkuliah lagi pada Universitas Terbuka (UT) semester lima (5) jurusan D3 Perpajakan di Jakarta sembari bekerja bersama sang adik yang setia menemaninya.

Di tempat sama, Alin Aulia Sarjana D3 Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang tak lain adalah calon istri Agus Ardiansyah mengatakan bahwa pilihan untuk menempuh jalan larian adalah kehendaknya tanpa ada paksaan dari pihak manapun juga, karena menurutnya sosok calon suaminya Agus Ardiansyah adalah Imam yang baik untuknya dan ayah bagi anak-anaknya kelak.

“Abang adalah orang baik dan beribadah serta bertanggung jawab kepada Ibu dan adik- adiknya dan saya ikhlas mencintai dan menyayanginya, saya berharap kelak Abang dapat menjadi pengganti ayah dan abang saya yang menyayangi dan menjaga saya tetap istiqomah berada di jalan Alloh SWT,”ujarnya.

Alin Aulia yang merupakan putri bungsu berharap, agar Ayah, Ibu dan keluarga besarnya dapat menerima Agus Ardiansyah apa adanya sebagai bagian dari keluarga. seraya memohon maaf atas langkah yang telah diambilnya yang dia sadari telah mengecewakan hati orang-orang yang dia sayangi dan cintai selamanya.

“Sampai saat ini kami belum direstui, bahkan kemaren saat keluarga abang datang kerumah ayah, keluarga saya tetap tidak merestui pernikahan kami. Mohon do’a Semoga Alloh dapat memberikan petunjuk bimbingan serta Ridho kepada kami”lirihnya dengan tetes airmata.(*)

SHER tampabatas
Baca Juga Artikel di LV

About admin

Check Also

SMSI Lampung Bahas Konsolidasi Pengurus

Tampabatas.com (SMSI-lpg), BANDARLAMPUNG. -Pengurus SMSI Lampung melakukan konsolidasi pengurus yang akan berakhir pada Maret 2022. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *