Lanjutan…. APAKAH AKU BERADA DI TUBABA

ADVERTORIAL TULANG BAWANG BARAT

Foto: Tugu di Tiyuh Pagardewa

Tampabatas.com(SMSI-lpg),
Tulangbawang Barat (Tubaba).
Menepis penatnya pemikiran, ku tuju suatu kedai, tanpa basa basi setelah izin empunya kedai kuambil gelas kuisi bubuk kopi Tubaba ditambah gula diseduh dengan air panas, jadilah kopi dan kunikmati sembari mengingat yang pernah terjadi. Wah bukan main nikmatnya kopi Tubaba

(Yang lalu telah ditulis pada media ini dengan judul ‘APAKAH AKU BERADA DI TUBABA’)

Pernah kubaca pada suatu buku, menuju Tubaba adalah Menata Pendidikan, Lingkungan, dan Budaya di Daerah Transmigrasi.
Penduduk Tubaba terdiri dari empat marga asli dan lima suku pendatang menyatu di tanah yang sama. Masing masing suku ini dikatakan mempunyai dialek, bahasa, adat budaya dan seni yang berbeda.

Foto: Instalasi bambu, sembilan kubah

Dikatakan juga dalam buku itu bahwa secara berkelakar Bupati Umar Ahmad pernah mengatakan,” Kita mulai saja semua dari nol.”
Dia mengakui Tubaba tidak punya apa-apa, hanya kehendak dan ketetapan hati untuk mengadakan hal baik di daerah yang dipimpinnya.

Maka penataan kembali harus dilakukan. Segala sesuatunya perlu direncanakan dari nol, dengan niat dan pandangan jernih untuk menciptakan sebuah kota baru. Kota Kota dengan arsitektur modern tetapi tetap ramah bagi seluruh warga, sambil membangun kembali lingkungan yang lebih nyaman sebagai tempat tinggal bersama mewujudkan Tubaba.

Foto: Masjid Baitushobur Islamik Center Tubaba (tampak belakang)

Otakku seakan mengalir dan mengingat yang pernah kulihat, ketika Tulangbawang Barat menjadi tuan rumah MTQ Provinsi Lampung 27/04/2019, dibangun suatu instalasi bambu yang berbentuk bubu berlorong panjang dengan sembilan kubah.

Ketika itu ada yang menjelaskan, Instalasi bambu sembilan kubah sebagai pengetrapan dari empat marga dan lima suku yang ada di Tulangbawang Barat juga sebagai aplikasi dari siger Lampung pepadun, yang sigernya berpucuk sembilan.

Sedangkan Lorong panjang intalasi bambu merupakan gambaran dari panjangnya lorong waktu untuk
Mencapai Tubaba.
Jelas dalam ingatan ku , pergaulan di Tulangbawang Barat tak terbatas oleh suku, berbaur dalam satu kehidupan yang damai walau berbeda budaya.

Foto: Hotel Berugo Cottage Kabupaten Tulangbawang Barat

Masih nyata tergambar dalam ingatanku, Tari Nenemo, tarian rakyat kreasi baru yang diciptakan di Tulangbawang Barat, melihat pakaian mereka menunjukkan keberadaan kaum tani serta kesamaan gerak seakan bergotong royong. Ada juga Musik Q-Tik kulihat alatnya terbuat dari bahan bambu, yang banyak tumbuh di Tulangbawang Barat.

Habislah sudah kopi kuteguk,
kurogoh kocek dan memberi sejumlah uang kepada pemilik kedai. Dengan motor revo kesayangan ku menuju komplek Islamik Center yang tak begitu jauh, disana terpampang dihadapanku bangunan Rumah Budaya Sessat Agung Bumi Ragem Sai dengan bentuk bangunan atap lima rumah kecil dilindungi empat rumah besar, katanya yang pernah kudengar, ini merupakan gambaran empat marga dan lima suku bangsa yang ada di Tulangbawang Barat.

Di sana juga berdiri menjulang masjid Baitushobur, bangunan berwajah tembok yang menampakkan kesederhanaan yang gamblang, menyimpan berbagai makna mulia yang baik untuk disandang, dengan lantai berbahan papan kayu kualitas yang tergolong ayu membuat hati seakan tenang.

Foto: Destinasi Agro Wisata di Tiyuh Pulung Kencana.

Setelah melihat berbagai keunikan di sana, Ku lanjutkan perjalanan ditemani sepeda motorku yang setia walau telah tergolong usang, namun dia tak pernah mengerang walau melintas tebing dan jurang. Silih berganti kutemui orang dari yang berhati lembut hingga yang berperangai garang, banyaklah sudah yang dapat ku kenang.

Tidak pernah kuhitung entah berapa kali jarum jam berputar, entah berapa pagi ku temui, tiada tebilang kudapati petang.
Sungai kecil dan besar acap kusebrangi, kutemui lahan nan subur, tandus dan gersang.

Berbagai Tiyuh kumampiri, budaya sedikit saling berbeda namun tetap saling menjaga. Walau agama bervariasi selalu dihiasi toleransi. Semua nampak damai tentram hanya sesekali kejahatan beraksi.

Foto: jalan dua jalur di Tiyuh Pulung kencana

Secara fisik kehidupan ataupun bangunan yang kudapati banyak tampilkan nilai sederhana namun tetap mengandung makna dan pamor. Banyak pula rumah di sana bergaya glamor seakan ingin tersehor.

Tidak pernah aku mengukur jarak yang sudah kutempuh, telah berapa kilometer, banyak hal yang ku lihat, masih banyak juga yang tidak peduli sampah, masih banyak juga yang tidak ingin berbuat kebaikan. Aku masih berada di Tulangbawang Barat karena ciri yang pernah disebutkan Bupati tentang Tubaba belum sepenuhnya ada dalam masyarakat. Tapi aku sudah pernah berada di Kota Budaya Uluan Nughik tempat dimulainya peradaban baru Tubaba. (Advertorial).
—————–SEKIAN——————
Oleh :Mukaddam (Ketua SMSI Tulangbawang Barat).

 

SHER tampabatas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *